Jangan mau jadi orang gajian seumur hidup! Jangan mau terus-terusan jadi karyawan. Jadilah pengusaha! Cepatlah resign! Jadi karyawan gak bisa kaya! Gunakan power of kepepet untuk sukses jadi pengusaha!
Dan kata-kata motipasi lainnya buat ngomporin karyawan agar jadi pengusaha. Ada juga cerita lain yang suka dipake buat ngomporin yaitu tentang betapa lelahnya harus bermacet-macet ria menempuh perjalanan panjang, pergi subuh pulang malam, sampe-sampe ketemu anak cuma seminggu sekali karena pergi kerja anak masih tidur, pulang kerja anak udah tidur.
Time freedom, waktu yang berharga bersama keluarga, ingin selalu dekat dengan keluarga, bisa kerja sambil ngasuh anak, penghasilan yang lebih besar daripada gajian bulanan, adalah harapan dan impian yang membuat orang pengen segera resign.
Saya pun begitu, waktu jadi karyawan kerjaannya ngedumel dan ngeluh mulu soal gaji yang kurang, padahal mah bukan kurang tapi karena saya banyak utang. Saya juga ngedumel soal kerjaan yang gak asyik, bos yang gak menyenangkan, dan segala alasan lainnya yang akhirnya bikin saya nekat resign tanpa perhitungan. Dan meskipun harus melalui masa-masa kelam tanpa penghasilan selama hampir satu tahun, akhirnya situasi kritis itu alhamdulillah terlewati, sehingga saya mulai bisa menikmati berwirausaha di bisnis online.
Dan sama seperti kebanyakan orang yang mengalami euforia karena perpindahan kuadran dari karyawan jadi wirausaha, di awal-awal saya pun mulai berkoar-koar tentang enaknya kerja dari rumah, saya cukup sering nyinyir sama mereka yang masih berstatus karyawan, dan ngomporin mereka biar cepet resign untuk wirausaha aja.
Tetapi seiring berlalunya waktu, pemikiran itu mulai berubah, saya jadi merasa bersalah udah ngomporin orang untuk resign dan seolah merendahkan status karyawan, seolah jadi pengusaha itu udah paling muliaaaa banget. Seolah jalan jadi kaya itu cuma lewat jalur pengusaha. Nah, kalo udah begini bukankah kita malah jadi menyempitkan makna rejeki? Bahwa seolah satu-satunya jalan rejeki dan jalan untuk menjadi kaya adalah dengan menjadi pengusaha?
Ya memang, pengusaha "biasanya" lebih kaya daripada karyawan. Walaupun belum tentu juga. Lagian karyawan yang pinter muter duit juga ada, jadinya dapat gaji dari perusahaan iya, dapat duit dari sambilan dan investasi juga iya. Dan khawatirnya ngomporin orang untuk resign dengan menceritakan tentang enaknya kerja dari rumah gak perlu bermacet-macet ria apalagi ditambah dengan nyeritain masa-masa ketidaknyamanan di perusahaan itu malah jadi menjauhkan orang-orang dari rasa syukur atas rejeki yang diterima selama kerja di perusahaan, dan juga membuat mereka gak ikhlas dalam bekerja, gak ikhlas dalam menempuh kemacetan demi mencapai tempat kerja, padahal udah jelas kerja itu ibadah bukan? Jika Anda ikhlas bermacet -macet ria demi mencari nafkah buat keluarga, dan jika Anda ikhlas dalam bekerja, masa sih Allah gak balas dengan kebaikan yang lebih banyak?
Oke lah, mungkin bos Anda kejam dan gak berperikemanusiaan. Mungkin gaji Anda memang kecil sampe gak cukup buat makan sebulan, dan mungkin ada ketidaknyamanan lain selama bekerja di perusahaan. Tapi apakah itu berarti kita harus menampik rejeki yang sudah kita terima walau sekecil apapun selama jadi karyawan kantoran? Gak heran kan kalau Allah berfirman dalam Al Quran tentang sedikit sekalinya manusia yang bersyukur?
Jadi meskipun Anda sudah mencapai time freedom dan financial freedom lewat jalur pengusaha atau bisnis online, bukan berarti Anda harus mengagung-agungkan status pengusaha dan seolah merendahkan mereka yang masih karyawan. Kemuliaan itu gak ditentukan dari status pengusaha atau karyawan.
Seringkali orang yang ngomporin untuk jadi pengusaha itu melupakan sebuah fakta bahwa gak semua orang bisa jadi pengusaha. Mereka sering bilang, "Jika saya bisa, Anda juga bisa! Semua orang bisa jadi pengusaha!"
Oh tidak bisaaa...sori ajah bukannya saya skeptis atau mau bikin Anda pesimis, tapi memang gak semua orang bisa dan mampu jadi pengusaha. Soalnya kalo "semua orang" mampu, lalu siapa yang mau jadi karyawan? Siapa yang mau jadi pembantu? Siapa yang mau jadi tukang sapu jalanan? Siapa yang mau jadi cleaning service? Siapa yang mau jadi tukang sedot WC? Kan semua udah jadi pengusaha? Mana ada pengusaha yang bisa kerjain semuanya sendirian tanpa karyawan kan?
Setiap orang udah punya perannya masing-masing. Gak semua orang memilih untuk jadi pengusaha, gak semua orang memilih untuk jadi kaya. Bukan soal kaya atau jadi pengusahanya yang penting, tetapi soal rasa berkecukupan dan rasa syukur dalam menjalani kehidupan.
Kalau seorang karyawan menikmati jalan hidupnya sebagai karyawan terus-terusan, ya kenapa nggak? Gak perlu juga dipaksa untuk jadi pengusaha. Apalagi kalau hidupnya udah berkecukupan dan dia menikmati profesinya.
Lagipula kalau kita ngomporin seseorang untuk resign, apakah kita mau bertanggungjawab atas kehidupannya jika dia mengalami masa-masa sulit karena ternyata prosesnya gak semudah yang dibayangkan? Karena power of kepepet juga gak selalu bisa diaplikasikan oleh semua orang. Ada tipe orang-orang yang malah makin terpuruk dan gak bisa ngapa-ngapain saat kepepet.
Kebanyakan yang ngomporin itu hanya pamer hasil tapi gak cerita tentang proses. Ada juga sih yang cerita tentang masa-masa susah dalam merintis usaha sebelum mencapai kesuksesannya. Tapi perlu dipahami bahwa pengalaman dan jalan rejeki tiap orang itu gak selalu sama. Meskipun udah ada formula tertulis A-B-C-D yang harus dilakukan kalo mau cepat sukses, praktek di lapangan belum tentu sama. Coba saja tengok semua pelatihan dan mentoring bisnis, sehebat apapun formula mereka, gak akan ada yang semua pesertanya berhasil, karena yang gak berhasil juga pasti akan tetep ada. Bukan berarti ilmunya gak manjur, tapi karena belum tentu juga jalan suksesnya melalui pelatihan atau mentoring bisnis yang bersangkutan.
Jadi kalo anda memang berniat resign dan jadi pengusaha, silahkan. Mau tetap jadi karyawan? Juga silahkan. Gak perlu saling memojokkan. Jalankanlah peran masing-masing selama hal itu membuat Anda nyaman, merasa berkecukupan, dan bisa senantiasa mensyukuri kehidupan.
Ituh!
Dan kata-kata motipasi lainnya buat ngomporin karyawan agar jadi pengusaha. Ada juga cerita lain yang suka dipake buat ngomporin yaitu tentang betapa lelahnya harus bermacet-macet ria menempuh perjalanan panjang, pergi subuh pulang malam, sampe-sampe ketemu anak cuma seminggu sekali karena pergi kerja anak masih tidur, pulang kerja anak udah tidur.
Time freedom, waktu yang berharga bersama keluarga, ingin selalu dekat dengan keluarga, bisa kerja sambil ngasuh anak, penghasilan yang lebih besar daripada gajian bulanan, adalah harapan dan impian yang membuat orang pengen segera resign.
Saya pun begitu, waktu jadi karyawan kerjaannya ngedumel dan ngeluh mulu soal gaji yang kurang, padahal mah bukan kurang tapi karena saya banyak utang. Saya juga ngedumel soal kerjaan yang gak asyik, bos yang gak menyenangkan, dan segala alasan lainnya yang akhirnya bikin saya nekat resign tanpa perhitungan. Dan meskipun harus melalui masa-masa kelam tanpa penghasilan selama hampir satu tahun, akhirnya situasi kritis itu alhamdulillah terlewati, sehingga saya mulai bisa menikmati berwirausaha di bisnis online.
Dan sama seperti kebanyakan orang yang mengalami euforia karena perpindahan kuadran dari karyawan jadi wirausaha, di awal-awal saya pun mulai berkoar-koar tentang enaknya kerja dari rumah, saya cukup sering nyinyir sama mereka yang masih berstatus karyawan, dan ngomporin mereka biar cepet resign untuk wirausaha aja.
Tetapi seiring berlalunya waktu, pemikiran itu mulai berubah, saya jadi merasa bersalah udah ngomporin orang untuk resign dan seolah merendahkan status karyawan, seolah jadi pengusaha itu udah paling muliaaaa banget. Seolah jalan jadi kaya itu cuma lewat jalur pengusaha. Nah, kalo udah begini bukankah kita malah jadi menyempitkan makna rejeki? Bahwa seolah satu-satunya jalan rejeki dan jalan untuk menjadi kaya adalah dengan menjadi pengusaha?
Ya memang, pengusaha "biasanya" lebih kaya daripada karyawan. Walaupun belum tentu juga. Lagian karyawan yang pinter muter duit juga ada, jadinya dapat gaji dari perusahaan iya, dapat duit dari sambilan dan investasi juga iya. Dan khawatirnya ngomporin orang untuk resign dengan menceritakan tentang enaknya kerja dari rumah gak perlu bermacet-macet ria apalagi ditambah dengan nyeritain masa-masa ketidaknyamanan di perusahaan itu malah jadi menjauhkan orang-orang dari rasa syukur atas rejeki yang diterima selama kerja di perusahaan, dan juga membuat mereka gak ikhlas dalam bekerja, gak ikhlas dalam menempuh kemacetan demi mencapai tempat kerja, padahal udah jelas kerja itu ibadah bukan? Jika Anda ikhlas bermacet -macet ria demi mencari nafkah buat keluarga, dan jika Anda ikhlas dalam bekerja, masa sih Allah gak balas dengan kebaikan yang lebih banyak?
Oke lah, mungkin bos Anda kejam dan gak berperikemanusiaan. Mungkin gaji Anda memang kecil sampe gak cukup buat makan sebulan, dan mungkin ada ketidaknyamanan lain selama bekerja di perusahaan. Tapi apakah itu berarti kita harus menampik rejeki yang sudah kita terima walau sekecil apapun selama jadi karyawan kantoran? Gak heran kan kalau Allah berfirman dalam Al Quran tentang sedikit sekalinya manusia yang bersyukur?
Jadi meskipun Anda sudah mencapai time freedom dan financial freedom lewat jalur pengusaha atau bisnis online, bukan berarti Anda harus mengagung-agungkan status pengusaha dan seolah merendahkan mereka yang masih karyawan. Kemuliaan itu gak ditentukan dari status pengusaha atau karyawan.
Seringkali orang yang ngomporin untuk jadi pengusaha itu melupakan sebuah fakta bahwa gak semua orang bisa jadi pengusaha. Mereka sering bilang, "Jika saya bisa, Anda juga bisa! Semua orang bisa jadi pengusaha!"
Oh tidak bisaaa...sori ajah bukannya saya skeptis atau mau bikin Anda pesimis, tapi memang gak semua orang bisa dan mampu jadi pengusaha. Soalnya kalo "semua orang" mampu, lalu siapa yang mau jadi karyawan? Siapa yang mau jadi pembantu? Siapa yang mau jadi tukang sapu jalanan? Siapa yang mau jadi cleaning service? Siapa yang mau jadi tukang sedot WC? Kan semua udah jadi pengusaha? Mana ada pengusaha yang bisa kerjain semuanya sendirian tanpa karyawan kan?
Setiap orang udah punya perannya masing-masing. Gak semua orang memilih untuk jadi pengusaha, gak semua orang memilih untuk jadi kaya. Bukan soal kaya atau jadi pengusahanya yang penting, tetapi soal rasa berkecukupan dan rasa syukur dalam menjalani kehidupan.
Kalau seorang karyawan menikmati jalan hidupnya sebagai karyawan terus-terusan, ya kenapa nggak? Gak perlu juga dipaksa untuk jadi pengusaha. Apalagi kalau hidupnya udah berkecukupan dan dia menikmati profesinya.
Lagipula kalau kita ngomporin seseorang untuk resign, apakah kita mau bertanggungjawab atas kehidupannya jika dia mengalami masa-masa sulit karena ternyata prosesnya gak semudah yang dibayangkan? Karena power of kepepet juga gak selalu bisa diaplikasikan oleh semua orang. Ada tipe orang-orang yang malah makin terpuruk dan gak bisa ngapa-ngapain saat kepepet.
Kebanyakan yang ngomporin itu hanya pamer hasil tapi gak cerita tentang proses. Ada juga sih yang cerita tentang masa-masa susah dalam merintis usaha sebelum mencapai kesuksesannya. Tapi perlu dipahami bahwa pengalaman dan jalan rejeki tiap orang itu gak selalu sama. Meskipun udah ada formula tertulis A-B-C-D yang harus dilakukan kalo mau cepat sukses, praktek di lapangan belum tentu sama. Coba saja tengok semua pelatihan dan mentoring bisnis, sehebat apapun formula mereka, gak akan ada yang semua pesertanya berhasil, karena yang gak berhasil juga pasti akan tetep ada. Bukan berarti ilmunya gak manjur, tapi karena belum tentu juga jalan suksesnya melalui pelatihan atau mentoring bisnis yang bersangkutan.
Jadi kalo anda memang berniat resign dan jadi pengusaha, silahkan. Mau tetap jadi karyawan? Juga silahkan. Gak perlu saling memojokkan. Jalankanlah peran masing-masing selama hal itu membuat Anda nyaman, merasa berkecukupan, dan bisa senantiasa mensyukuri kehidupan.
Ituh!
No comments:
Post a Comment