Cara cari uang di internet yang halal - Mendapatkan uang dari internet adalah impian banyak orang di jaman sekarang, meskipun tidak selalu semudah yang dibayangkan, karena segala sesuatu itu berproses, tidak ada yang ujug-ujug langsung kaya dalam semalam. Terlepas dari soal mudah tidaknya bisnis online, ada satu hal yang sering mengusik pikiran saya saat berusaha menghasilkan uang dari jalur online yaitu, "Halalkah cara yang saya lakukan ini?"
Bicara soal halal haramnya metode cara cari uang di internet, tentu saja akan lebih afdol kalau berkonsultasi langsung pada pakarnya. Dalam hal ini para ulama, lebih bagus kalau ulama yang juga paham tentang seluk beluk make money online.
Karena kalau saya cuma pake sorban dan kasih pendapat pribadi, maka akan rentan dengan perdebatan, padahal fatwa ulama juga bisa saja didebat oleh yang tidak setuju karena merasa bisnisnya terancam hehehe.
Selama mencari penghasilan di internet, saya bersyukur karena sering ada teman yang mengingatkan dan memberi masukan bahwa apa yang saya lakukan sudah agak-agak nyerempet 'grey area' atau bahkan sebenarnya sudah hitam di atas putih. Dan saya akan tetap butuh masukan mereka agar tidak salah jalan.
Cari uang lewat internet sendiri banyak ragamnya. Misalnya Adsense, Amazon Associates, Click Bank Affiliate, CPA, jualan online, dan lain-lain.
Saya gak berada di posisi yang bisa menjawab dengan pasti tentang adakah sisi yang gak halal dari itu semua? Karena hingga hari ini saya masih harus banyak belajar untuk mendapatkan uang dari jalur online secara halal.
Tapi jika satu hari saya menemukan bahwa apa yang saya lakukan ternyata gak syariah dan jauh dari berkah, maka saya juga harus siap meninggalkannya biar disangka mastah yang sholehah (lho?).
Berhubung sejauh ini saya lebih banyak berkecimpung di dunia jualan online, maka yang paling saya camkan agar berhati-hati dalam hal cari uang online adalah dua poin berikut:
1. Produknya
Apakah produknya halal? Dan apakah lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya?
Sebuah produk bisa saja laku keras, tapi kalau tidak halal dan lebih banyak mudaratnya tentu saja lebih baik ditinggalkan.
Misalnya obat aborsi. Mungkin bermanfaat bagi ibu yang terpaksa harus menggugurkan janin karena jika kehamilan dilanjutkan bisa berakibat mengancam keselamatannya.
Tetapi jika mayoritas yang membeli adalah para remaja yang hamil di luar nikah, jelas gak barokah. Lagipula obat semacam itu tidak seharusnya beredar bebas secara online tanpa resep dokter.
Terkadang ada juga produk yang bagai dua sisi mata pisau. Satu sisi mungkin bermanfaat tapi bisa juga disalahgunakan. Misalnya obat kuat.
Tentunya bermanfaat bagi mereka yang menderita lemah syahwat, tapi tidak baik jika digunakan untuk tujuan maksiat. Karena di sebuah forum saya pernah melihat orang yang laris jualan obat kuat, tapi ironisnya di antara yang kasih testimoni ternyata cukup banyak juga cowok-cowok yang berterima kasih karena mereka jadi kuat main dengan "pacar"nya. Udah gitu yang jualan dengan bangganya menampilkan testimoni-testimoni tersebut.
Contoh lain adalah jualan pakaian dalam wanita khususnya lingerie yang menampilkan wanita-wanita sekseh yang memakai produk lingerie tersebut.
Bagi yang gak peduli dengan syariah sih mungkin akan merasa "Ribet banget sih yang gitu aja dipersoalkan...", tapi khususnya bagi umat muslim ini jelas-jelas menampilkan aurat. Mungkin akan lebih baik jika hanya ditampilkan lingerienya saja tanpa menggunakan model, atau modelnya diganti dengan mannequin saja.
Yang penting jangan sampai memperlihatkan aurat modelnya apalagi modelnya cowok yang pake beha dan pita kuping kelinci, karena itu bisa merusak keseimbangan alam semesta.
2. Metode / Cara Memasarkannya
Bagi saya, segala bentuk cara yang melakukan manipulasi, kecurangan, atau kebohongan agar cepat menghasilkan itu gak berkah. Contoh yang paling gampang adalah jualan dengan akun klonengan.
Oke, saya tahu ini bisa diperdebatkan, karena pada dasarnya gak semua akun klonengan itu buruk, misalnya kalau pake nama lain, yang aslinya Joko, terus bikin klonengan khusus jualan bernama Joko Spesialis Herbal, kayaknya sih masih oke lah sepanjang gak ada larangan dalam policy Social Media yang digunakan untuk jualan.
Tapi yang bisa membuat akun klonengan jadi gak berkah adalah kalau kita memakai foto orang lain tanpa ijin, udah gitu berjenis kelamin berbeda pula.
Sudah umum terjadi kalau cowok yang memakai akun klonengan cewek sering membuat banyak cowok lain tertipu dan jatuh cinta karena saking cantiknya foto profil mereka :D
Apalagi jika foto klonengan yang ditampilkan itu sangat seksi dan mengumbar aurat, jaminan mengundang puluhan hingga ratusan friend request dari para cowok yang mupeng dan nanya nomor telepon atau ngajak ketemuan, ngajak gituan, atau bahkan langsung mengajukan lamaran wkwkwk.
Saya suka mikir begini, seandainya ada orang lain memakai foto ganteng saya untuk keperluan jualan mereka, maka saya pasti gak rela dan akan menuntut orang tersebut untuk cabut foto saya, kecuali dia minta ijin terlebih dahulu dan bagi hasil fifty-fifty #Lho.
Contoh lainnya yang perlu diperhatikan keberkahannya adalah copywriting.
Gak ada yang salah dengan copywriting kalau dilakukan dengan benar. Tapi kalau kita membuat kata-kata yang bombastis dalam sales letter padahal tidak sesuai dengan kenyataan, maka itu jelas adalah sebuah kebohongan.
Atau ngaku-ngaku mastah yang punya penghasilan ribuan dolar per bulan dari Affiliate, lalu melakukan pencitraan dengan cara menampilkan screenshot penghasilan yang dimanipulasi dengan inspect element, supaya orang tertarik beli tutorial atau gabung program membershipnya, maka itu pun jelas kebohongan yang nyata.
Btw, pernah seorang teman mengundurkan diri dari perusahaan tempat dia bekerja selama bertahun-tahun, karena dia dapat tugas untuk membuat sales letter yang lebay nan bombastis, padahal tidak sesuai dengan kenyataan. Atau kalaupun kenyataannya itu bisa dilakukan, prosesnya tidaklah semudah dan secepat yang digembar-gemborkan dalam sales letternya.
Apakah sikap dan keputusannya benar? Saya sih yes, gak tau kalau mas Anang.
Lalu bagaimana dengan sales letter dengan kata-kata yang memainkan emosi pembaca agar yang tadinya tidak butuh jadi merasa butuh?
Nah, ini pun bagi saya masih masuk grey area, dan saya sendiri jujur gak suka melakukannya. Karena saya pun pernah mengalami jebol kartu kredit AKIBAT TERGIUR SALES LETTER, (kayaknya bagus tuh dijadiin judul film atau novel wkwkwk) padahal saya sebenarnya gak butuh produk itu dan pada akhirnya memang gak pernah kepake, alias hanya berakhir menjadi koleksi donlotan yang ke sekian gigabytes di hardisk laptop.
Tapi kan...kalau gak begitu mana ada yang beli? Emang orang mau beli kalau sales letternya begini?
"Dengan mempelajari tutorial ini belum tentu Anda akan menghasilkan uang, kalaupun bisa kemungkinan akan butuh waktu lama. Kunci keberhasilan dari tutorial ini adalah ketekunan, kesabaran, serta ketabahan. Saya sih jujur saja gak mau nipu Anda. Kalau mau silahkan beli, kalau nggak ya udah."
Ya memang gak perlu segitunya bikin sales letter supaya dianggap jujur. Tapi saya cuma berkeyakinan, pasti ada cara lain untuk membuat sales letter yang lebih syariah dan profitable tanpa harus mengekspos kebohongan dan membuat orang tadinya yang gak butuh menjadi butuh.
Saya lebih suka jika produk yang saya jual dibeli oleh orang yang benar-benar butuh. Karena itu kalau sudah jualan, maka sambil promosi saya berdoa semoga hanya orang-orang yang benar-benar butuh saja yang membelinya, bukan mereka yang terpaksa beli, atau beli hanya karena penasaran lalu kemudian ngomel-ngomel karena merasa buang-buang duit padahal dia sebenarnya gak butuh.
Daripada banyak yang beli tapi bikin sebagian orang merasa dompetnya terdzalimi karena gak seharusnya mereka beli, maka akan lebih baik lagi kalau yang beli banyak tapi berkah karena mereka memang benar-benar butuh.
Tapi hal ini didebat oleh seorang teman, karena konon katanya ada orang-orang yang sebenarnya butuh tapi ngerasa gak butuh. Karena itu katanya mereka harus diedukasi supaya tahu pentingnya produk tersebut agar mereka beli demi kebaikan mereka.
Hmm...saya gak tau deh, tapi saya mah based on doa aja deh. Karena kalau doanya dikabulkan, maka yang akan datang beli ke saya adalah orang-orang yang benar-benar membutuhkan, termasuk orang-orang yang tadinya ngerasa gak butuh padahal sebenarnya mereka butuh, dan mereka akhirnya sadar kalau mereka butuh. Lebih cihui gitu kan? Hehehe.
Demikian yang bisa saya sampaikan dalam tulisan kali ini. Belum tentu benar dan tentu saja sangat memungkinkan untuk disanggah, karena mungkin saja sayanya yang belum benar-benar paham. Akan lebih baik kalau Anda bertanya langsung pada yang lebih ahli agar lebih berhati-hati dalam menjemput rejeki.
Biar bagaimanapun kita tetap harus berusaha mencari uang di internet dari produk yang halal dan dengan cara yang halal pula, karena bukan keuntungan semata yang kita cari, melainkan juga keberkahannya. Atau lebih tegasnya lagi seperti kata pak ustadz, bisnis itu bukan urusan untung rugi tapi soal sorga neraka.
Menurut sebuah hadits yang sebenarnya bagus untuk motivasi berdagang tapi sayangnya dhoif (lemah), dikatakan bahwa 9 dari 10 pintu rejeki berasal dari perdagangan.
Tetapi kita juga harus hati-hati karena 9 dari 10 pintu neraka pun bisa saja berasal dari perdagangan, ketika kita berdagang atau mencari uang dengan menghalalkan segala cara tanpa peduli bahwa semua sumber harta yang kita peroleh akan dipertanggungjawabkan di hadapanNya kelak.
Ituh!
*benerin peci
1 comment:
Bener banget om :D yang penting barokah dulu
InsyaaAllah berlimpah kemudian
SpammerSyariah
Post a Comment